Afganistan: Jembatan yang Terlalu Jauh untuk Indonesia

Taliban telah mempermalukan prakarsa perdamaian Presiden Joko Widodo untuk Afghanistan dengan mengatakan rencana tersebut direkayasa oleh orang-orang kafir. Kelompok tersebut, yang diidentifikasi sebagai organisasi teroris oleh PBB, telah berjanji untuk memboikot konferensi ulama trilateral dimana dalam agenda tersebut direncanakan akan dihadiri oleh Indonesia, Afghanistan dan Pakistan akhir bulan ini di Jakarta. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di situs resminya pada hari Sabtu, Taliban mengatakan bahwa pembicaraan damai tersebut memuat tujuan berbahaya.

Misi yang Sulit Untuk Dilakukan

Jokowi, bagaimanapun, menegaskan bahwa rencana tersebut akan berlanjut meski tanpa kehadiran Taliban. Jokowi sangat ingin menindaklanjuti kunjungannya ke Afghanistan bulan lalu, dengan menawarkan dirinya sebagai broker perdamaian yang jujur ​​untuk negara yang dilanda perang tersebut.Adapun tujuan Jokowi adalah untuk memajukan kepercayaannya sebagai pemimpin dunia Muslim dengan melakukan usaha pembuatan perdamaian.

Hal ini dilakukan presiden karena para pengkritiknya mencapnya sebagai pemimpin anti-Islam, walaupun pemerintah telah mengklaim membantu muslim Palestina dan Rohingya. Tawaran terpilihnya kembali Jokowi di Pilpres 2019 bisa semakin besar jika dia bisa membawa partai-partai yang bertikai di Afghanistan, yang telah berusaha saling menghancurkan selama lebih dari 40 tahun, ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan damai.

Presiden harus menyadari bahwa dia menghadapi misi yang tidak mungkin, tapi dia keluar untuk mengubahnya menjadi misi yang mungkin dengan bantuan Wakil Presiden Jusuf Kalla.Wakil Presiden berpengalaman sebagai broker perdamaian dalam perannya Bandar togel sgp saat menengahi pembicaraan rekonsiliasi dengan separatis pemerintah dan Aceh, dan berperang melawan Muslim dan Kristen di Maluku dan Poso di Sulawesi Tengah.

Meskipun tujuan mulia, bagaimanapun, pemerintah harus ingat bahwa akar penyebab Perang Afghanistan yang berkepanjangan terlalu rumit untuk dihadapi.Secara geografis, Afghanistan juga jauh dari Indonesia.Perang telah berlangsung selama lebih dari 40 tahun dan melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat.Sehingga masalahnya tidak cukup selesai di meja perundingan.

Jembatan yang Terlalu Jauh

Afghanistan adalah jembatan yang terlalu jauh bagi Indonesia. Ada ancaman lain bagi perdamaian regional yang lebih dekat dan pribadi bagi Indonesia, yakni mengakhiri aksi genosida Rohingya di Myanmar jauh lebih mendesak bagi Indonesia. Indonesia termasuk di antara beberapa negara tetangga yang dapat dipercaya oleh militer dan pemerintah Myanmar dan karenanya memberikan akses ke negara Rakhine, di mana jutaan orang Rohingya telah mengalami kekejaman.Indonesia telah memenangkan kepercayaan militer Myanmar, dimana jendralnya juga banyak belajar dari rekan-rekan mereka di Indonesia, terutama di era Soeharto.

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi hampir tidak dapat menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan bukan hanya karena militer memiliki kekuatan yang signifikan, tetapi juga karena kebencian terhadap kelompok minoritas di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Budha.Sebagai anggota ASEAN yang terkemuka, Indonesia patut mendapat peran kunci dalam mengkoordinasikan upaya pembuatan perdamaian internasional di Myanmar.Meyakinkan militer untuk mengakhiri penderitaan Rohingya dan memulihkan perdamaian di Myanmar sangat penting bagi Indonesia.

Dukungan Jokowi yang keras dan jelas untuk kemerdekaan Palestina memang telah memberikan berbagai pujian baik domestik maupun internasional termasuk upayanya untuk menyelesaikan krisis Rohingya, meskipun usaha tersebut masih terus berjalan.Ini adalah upaya yang lebih mendesak untuk dilakukan Indonesia dan merupakan catatan penting untuk hubungan diplomatiknya.Sedangkan menurut pakar, Afghanistan terlalu jauh bagi Indonesia jika dibandingkan dengan Myanmar.